Friday

SPIRITUALITAS BISNIS

Oleh Jansen H. Sinamo



Fenomena menarik yang akhir-akhir ini kita saksikan bersama adalah maraknya gairah para eksekutif bisnis untuk mendalami nilai-nilai agama. Tempat-tempat ibadah dipenuhi para eksekutif. Kantor-kantor - tak peduli perusahaan lokal maupun multinasional - membuka tempat bagi eksekutif dan karyawannya untuk mengembangkan dan mendiskusikan ajaran agama. Malah tidak sedikit para eksekutif menjadi aktivis keagamaan yang kini menjadi trend kembali seperti tasawuf (Islam), karismatik (Kristen), atau bahkan New Age.

Maraknya trend para eksekutif mendalami kembali ritual-ritual agama bagaimana pun harus dipahami sebagai sebuah ekspresi kerinduan mereka untuk mengintegrasikan nilai-nilai etis, moral dan spiritual ke dalam lingkungan bisnisnya yang cenderung sekuler, kering, dan materialistik.

Memang pendapat minor bahwa eksekutif dan birokrat yang mendalami agama hanya sekedar topeng - terbukti dengan tetap maraknya korupsi, manipulasi dan kolusi di negeri ini - tidak seluruhnya dapat ditepis. Pertumbuhan tempat ibadah yang tampaknya sejajar dengan pertumbuhan aktivitas korupsi, tak pelak menjadi ironi tersendiri di tengah keinginan untuk memperbaiki moral warga negara.

Terlepas dari kenyataan aneh tersebut, gairah para eksekutif untuk mempelajari nilai-nilai agama patut dicermati dengan saksama. Ada dua pertanyaan yang muncul untuk mengkritisi fenomena ini. Apakah gairah tersebut hanya sekedar sebuah trend gaya hidup yang kelak akan hilang sendiri seperti trend di dunia mode yang silih berganti? Atau para eksekutif tersebut sudah mulai muak melihat praktik bisnis di tanah air yang selama ini pekat dengan aroma KKN dan mereka ingin memperbaikinya dengan memasukkan unsur-unsur etika dalam berbisnis? Kalau yang muncul ke permukaan adalah yang pertama, maka pendapat minor tentang fenomena topeng diatas akan menguat. Sebaliknya bila yang mencuat ialah alasan kedua, maka kita patut bersyukur. Sudah jelas bahwa para eksekutif sebagai elit organisasi berfungsi juga sebagai agen perubahan yang sangat strategis menuju terciptanya good corporate governance yang merupakan keniscayaan dalam arena bisnis global yang beradab dan profesional.



SPIRITUALITAS BISNIS

Untuk sementara kita berpendapat bahwa gairah para eksekutif bisnis mendalami nilai-nilai dan ritual agama kita pahami sebagai minat untuk mengembangkan bisnis yang berbasis pada moralitas dan profesionalitas. Setelah cukup lama dikungkung oleh budaya kerja yang jauh diri nilai-nilai luhur tersebut, kini para eksekutif mulai mengalami pencerahan untuk membangun kehidupannya dengan nuansa spiritual yang pada gilirannya akan mewarnai pula praktik bisnis yang digelutinya. Dalam wacana kita, etos baru eksekutif inilah yang disebut sebagai spiritualitas bisnis.

Spiritualitas bisnis, seperti dari namanya, dibangun dari dua buah kata: spiritualitas dan bisnis. Spiritualitas sendiri menurut kamus Webster artinya attachment to religious values atau dapat pula berarti the state of being spiritual. Sedangkan di komunitas Mahardika spiritualitas kami artikan sebagai rangkaian proses-proses transendensi kehidupan sehingga berkarakter spiritual.

Berkarakter spiritual dari kamus yang sama berarti mengandung nilai-nilai religius, atau berkaitan dengan fenomena supernatural, atau bersifat melampaui (transcends) hal-hal yang biasa, natural, atau normal. Jadi dapat dikatakan bahwa hal-hal spiritual adalah hal-hal yang transendental


Transendensi yang artinya proses melampaui batas-batas normal atau melampaui hal-hal yang biasa, adalah kata kunci spiritualitas. Orang yang memiliki spiritualitas dengan demikian adalah orang yang sudah mampu melakukan transendensi (pelampauan) terhadap batas-batas materi biasa, ruang biasa, waktu biasa, lokalitas biasa, pengetahuan biasa, pengalaman biasa, atau kemampuan biasa, tanpa kehilangan karakter “biasa”-nya. Sebagai contoh jika kita bicara tentang spiritualitas bisnis, maka kita bicara tentang konsep-konsep yang beyond business tanpa mengabaikan konsep normal (biasa) bisnis itu sendiri. Dalam kaitan inilah maka spiritualitas sekaligus mengandung makna menuju pada integrasi (kepaduan) dan holisme (keutuhan). Juga boleh dikatakan, lawan dari spritualitas ialah reduksionisme, parokialisme, atau sektarianisme.

Karakter spiritual dalam bisnis menjadi penting karena reduksionisme bisnis menjadi misalnya hanya sekedar uang atau making money saja jelas akan menuju kondisi ketidakseimbangan dan akhirnya menuju krisis dan kemudian keambrukan. Dalam pengertian inilah kita lebih memahami pernyataan terkenal E. F. Schumacher yang mengatakan bahwa semua krisis bermula dari krisis spiritual. Sekarang dapat kita pahami bahwa krisis spiritual berarti macet nya proses-proses transendensi yang kemudian bergerak menuju pemiskinan, pendangkalan, mono-dimensionalisme, dan sekali lagi krisis. Sebaliknya spiritualitas bisnis sebagai hasil transendensi atas segenap aspek-aspek bisnis merupakan proses yang memperkaya, memperdalam, memperluas, mengembangkan multi-dimensionalisme dan pluralisme, serta holisme dan integritas akan mendatangkan kekuatan dan stabilitas serta kemajuan organisme dan ekosistem bisnis itu sendiri. Jadi dengan lugas dapat dikatakan bahwa spiritualitas itu memperkuat kehidupan; sedangkan mengabaikannya berarti memperlemah kehidupan, membawa krisis dan ujungnya kematian.

Transendensi secara umum dilakukan dalam bentuk pendalaman vertikal maupun horizontal atas realitas yang dikaji dengan menggunakan seluruh akal budi kita yang akhirnya mewujud menjadi konsep, teori, atau paradigma; dan selanjutnya mengubah praktik-praktik kehidupan. Pada level personal, apabila transendensi ini dilakukan dengan baik dan benar maka sejatinya orang akan mengalami perubahan kualitatif karena ia sekarang memakai worldview yang lebih luas dan lebih tinggi. Orang seperti ini akan tampil menjadi bijaksana, baik perkataannya maupun perbuatannya.


Sekali lagi, spiritualitas bisnis adalah proses transendensi atas hakikat, bentuk, proses, maupun output bisnis itu sendiri melampaui pengertian biasa yang selama ini dipahami. Tegasnya, pada tataran spiritualitas bisnis ini kita tidak lagi melulu berbicara tentang profit, jual-beli, transaksi, manajemen, akunting, atau strategi; namun kita juga mampu berbicara tantang pelayanan, pengembangan komunitas, pengembangan martabat manusia, tanggungjawab sosial, preservasi lingkungan hidup, keadilan, kebenaran, ibadah, cinta, bahkan Tuhan.

Sebuah contoh sederhana dapat dikemukakan. Dalam Wisdom of the Electronic Elite dijelaskan bahwa dewasa ini terjadi pemahaman-pemahaman yang meluas (baca: transendensi) dalam dunia bisnis sebagai berikut:

  1. Bahwa bisnis adalah ekosistem; bukan medan persaingan saja.

  2. Bahwa perusahaan adalah komunitas; bukan mesin uang saja.

  3. Bahwa manajemen adalah pelayanan; bukan kontrol saja.

  4. Bahwa manajer adalah pelatih; bukan mandor saja.

  5. Bahwa karyawan adalah sejawat; bukan pembantu saja.

  6. Bahwa motivasi datang dari visi; bukan upah saja.

  7. Bahwa perubahan adalah pertumbuhan; bukan penderitaan saja.


Sekaligus inilah sebuah contoh transendensi dari satu menjadi dua dimensi; dari yang biasa menjadi yang transendental; dari yang "duniawi" menjadi "spiritual". Dan juga, inilah permulan spiritualitas bisnis. Lihat misalnya yang pertama: bisnis adalah ekosistem; bukan medan persaingan saja. Selama ini biasa (normal) dipahami bahwa bisnis adalah medan perang. Untuk itu orang mendalami ajaran Sun Tzu dalam The Art of War dan mengaplikasikannya dalam bisnis. Berbisnis artinya berperang. Dengan logika ini maka wajar bila persaingan sebagai bentuk peperangan perusahaan satu harus mematikan perusahaan lainnya. Medan perang tidak kenal belas kasihan. Demi kemenangan segala sesuatu boleh dilakukan dan segala cara boleh dipergunakan. Akibatnya, bisnis kecil dilindas bisnis besar, konsumen dan negara dirugikan, alam dirusak tanpa ampun.

Bagaimana bila bisnis dipahami sebagai ekosistem? Di dalam ekosistem tidak ada yang menindas dan yang tertindas. Yang besar tidak memangsa yang kecil. Semua saling membutuhkan dan melengkapi. Keberlanjutan dan keseimbangan menjadi prioritas. Ideal yang dituju adalah harmoni dan kelanggengan. Yang terjadi adalah keseimbangan antara yang besar dan yang kecil. Lembaga bisnis merupakan sub-sistem yang organik dari sistem masyarakat yang lebih besar. Para stakeholders, yaitu pemerintah, konsumen, pemegang saham, manajemen dan karyawan saling terkait secara interdependen dan sinergistik.

Semua ini sudah layak disebut sebagai paradigma baru dalam dunia bisnis. Jelas, paradigma baru ini memang kental dengan nuansa spiritual, yaitu nilai-nilai religius yang indah dan ideal. Inilah sebuah contoh sederhana spiritualitas bisnis.

***



Tetapi yang juga amat penting adalah bahwa dalam spiritualitas bisnis di atas secara intuitif kita dapat merasakan bahwa bisnis dengan paradigma baru ini akan lebih sukses dibandingkan dengan bisnis tanpa spiritualitas. Sebuah konfirmasi dapat kita peroleh melalui karya dua profesor dari Stanford University, Collin dan Porras, dalam buku spektakuler mereka Built to Last (1994) yang menyebut bahwa perusahaan-perusahaan yang berumur panjang dan sangat sukses -- ditandai dengan menjadi market leader pada tingkat dunia -- ternyata dicirikan oleh karakter yang bersifat spiritual. Perusahaan yang mereka teliti termasuk 3M, American Express, Boeing, Citicorp, General Electric, Hewlett-Packard, Johnson & Johnson, Marriott, Merck, Motorola, Nordstorm, Procter & Gamble, Sony, Wal-Mart, dan Walt Disney.


Dari sebelas karakter, lima yang berikut jelas sangat kental dengan nilai spiritual:

  1. Excellent at Paradox: Broad-minded Mentality


  1. Strong Ideology: Clear Core Values and Mission


  1. Big Audacious Hairy Goals: Compelling Vision


  1. Strong Culture: True Believer On Idealistic Values


  1. Striving for Quality: Moving Toward Perfection


Pada tingkat lain, spiritualitas perusahaan-perusahaan di atas dapat kita tangkap dari pernyataan visi, misi, dan nilai-nilai dasar mereka. Contoh paling sederhana mungkin ialah misi perusahaan hiburan terbesar di dunia Walt Disney: To make people happy. Contoh lain adalah core values dari sejumlah perusahaan-perusahaan yang diteliti oleh Collin dan Porras sbb:


3M

1. Innovation; “Thou shalt not kill a new product idea”

2. Absolute integrity

3. Respect for individual initiative and personal growth

4. Tolerance for honest mistakes

5. Product quality and reliability

6. Our real business is solving problems


American Express

1. Heroic customer service

2. Worldwide reliability of service

3. Encouragement of individual initiative


Boeing

1. Being on the leading edge of aeronautics; being pioneers

2. Tackling huge challenges and risks

3. Product safety and quality

4. Integrity and ethical business

5. To “eat, breathe, and sleep the world of aeronautics”


Ford

1. People as the source of our strength

2. Products as the “end result of our effort”

3. Profits as a necessary means and measure for our success

4. Basic honesty and integrity.


General Electric

1. Improving the quality of life through technology and innovation

2. Interdependent balance between responsibility to customers, employees, society, and shareholders.

3. Individual responsibility and opportunity

4. Honesty and integrity




Maka tidak terlalu mengejutkan jika kita berpendapat bahwa rahasia kesuksesan organisasi sesungguhnya terletak pada kekuatan spiritualitasnya. Tanpa spiritualitas, tanpa roh, maka organisasi akan lekas mati. Dalam upaya maha besar untuk memulihkan ekonomi republik ini, yang juga berarti membangun kembali vitalitas dunia bisnis kita, maka spiritualitas bisnis merupakan sebuah keniscayaan. Pada aras lain, untuk menjaga keutuhan republik ini dan tidak mengalami disintegrasi (mati) maka spiritualitas dalam segenap aspek kehidupan berbangsa dan bernegara patut pula dianggap sebagai sentral dari usaha tersebut.



SPIRITUALITAS KERJA

Contoh lain spiritualitas ialah pada bidang kerja. Sebutlah spiritualitas kerja. Yang biasa ialah bahwa kerja dipahami dan dihayati orang sebagai tempat untuk:

  1. mencari nafkah

  2. memburu fasilitas

  3. mendapatkan kekuasaan

  4. membangun karir cemerlang

  5. menampilkan gaya hidup makmur

  6. mempersiapkan masa tua yang tenang dan nyaman



Dengan melakukan transendensi atas hal-hal normal di atas, kami di Institut Darma Mahardika memperoleh sehimpunan pernyataan berikut ini:


  1. Kerja adalah Rahmat: Aku bekerja tulus penuh rasa syukur

  2. Kerja adalah Amanah: Aku bekerja benar penuh tanggung jawab

  3. Kerja adalah Panggilan; Aku bekerja tuntas penuh integritas

  4. Kerja adalah Aktualisasi; Aku bekerja keras penuh semangat

  5. Kerja adalah Ibadah; Aku bekerja serius penuh kecintaan

  6. Kerja adalah Seni; Aku bekerja kreatif penuh suka cita

  7. Kerja adalah Kehormatan; Aku bekerja tekun penuh keunggulan

  8. Kerja adalah Pelayanan; Aku bekerja sempurna penuh kerendahan hati.


Sebagai kesatuan inilah yang kami sebut sebagai Ethos-21: Etos Kerja Profesional di Zaman Digital. Uraian panjang lebar tentang hal ini direncanakan terbit sebagai sebuah buku pada awal 2001.

Kami meyakini, apabila etos kerja baru ini dipahami, dihayati, dan dilaksanakan akan menciptakan sebentuk keseimbangan kerja, kekayaan makna kerja, vitalitas baru dalam bekerja, serta output kerja yang lebih positif dan produktif. Dengan transendensi maka spirit kerja ditemukan kembali. Inilah spirit yang memberdayakan kita. Spirit yang membuahkan keberhasilan sejati. Itulah sebabnya mengapa ungkapan Reviving the Spirit of Success kami pilih sebagai motto organisasi.


1 comment:

Anonymous said...

Nice writing... inspiring ... thank you